Melompat, Dan Berlari…

Posted: August 4, 2011 in Diary

Gelap..Gelap Gulita…

Entah aku buta, atau memang tiada cahaya disekitarku.

Kepala ku pening, dan sedikit berputar.

Entah apa yang terjadi, semua sulit aku ingat.

Haus, tenggorokanku kering. Seolah habis berlari jauh, namun kakiku tak terasa penat. Aneh, kakiku terasa ringan dan mudah sekali digerakkan. Aku tengok, ada kaki kecil dengan sepatu lusuh yang dikotori dengan bekas-bekas tanah kering.

Aneh, Apa yang terjadi?

Tanganku sulit digerakkan, seperti terikat dengan tali. Huft, andai tubuhku kuat Bisa dengan mudah aku lepaskan, tapi kenapa aku lemah sekali. Seperti sedang terjebak dalam tubuh seorang anak berusia 7 tahun, dengan energi yang terbatas.

Terdengar tetesan air, dengan kesadaran yang mulai pulih aku mulai melemparkan pandangan disekitarku untuk memahami apa yang terjadi.

Rupanya aku dalam sebuah kamar mandi, gelap dan lembab. Hanya ada bak air kotor, dan lemari kaca. Tunggu dulu, rupanya benar. Kenapa tubuhku kecil sekali, seperti anak berusia 7 tahun, dengan bekas luka goresan dikepalaku? Apa yang terjadi.

Seperti de Ja Vu, tapi sulit aku ingat.

Hanya terdengar teriakan-teriakan, dan suara memaki yang memekakkan telinga.

Naluriku berkata, aku harus segera keluar dari ruangan ini.

Walau kesadaranku orang dewasa, dengan tubuh sekecil ini aku mengkhawatirkan dengan yang ada dibalik Pintu itu bila Dia Kembali.

Ku sentuh pintu itu perlahan “terkunci”

Huft, tanganku yang terkunci dipinggangku ini mulai menimbulkan kram di pergelangan tangan.

Aku harus melepaskannya terlebih dahulu, dengan menekuk lutut Lengan ku sudah berpindah didepan tangan ku.

Dengan beberapa kali keratan, tali ini mengendur dan bisa kulepaskan.

Huft, tantangan berikutnya adalah keluar dari ruang gelap ini.

Jalan lain selain pintu, cuma jendela ventilasi kecil yang tingginya 2.5 m. Dengan ukuran tubuhku sekarang ini cuma 90 cm sulit sekali menjangkaunya.

Yang  harus kulakukan adalah mencari pijakan.

“Ayo berfikir” kataku dalam hati.

“Aku sanggup melompati Bak mandi, Dengan lompatan ekstra aku bisa menjangkau puncak lemari ini dan menjangkau ujung jendela”

Aku tak tahu apa yang diluar sana, semua samar ku ingat. Namun naluriku berkata aku harus keluar dan menjauh dari tempat ini.

“Oke, mari kita coba” Kataku lirih.

Dengan sekali lompat, aku sudah diatas bak mandi. Kemudian dengan penuh perhitungan tanganku mampu menggapai puncak lemari dan mendaki diatasnya.

Huft, kotor dan berdebu.

Ups, ada amplop putih lusuh terjatuh dari sakuku, sulit kubaca tulisan atasnya. Sepertinya penting, namun urung ku ambil karena terdengar suara langkah kaki menuju ke tempatku berada.

Perjudian terakhirku, Aku harus melompat keluar jendela.

Dengan sentakan anak-anak, dan semangat orang dewasa aku berhasil menggapai ujung jendela dan memanjat jendela.

Ada gang sempit , aku harus melompat keluar.

Dengan sekali lenting, dan teknik jatuh yang benar semua akan baik saja.

“jump” kataku.

…..

Hari mulai sore, Gradasi lembayung mentari tak seindah biasanya.

Yang aku sadari, aku harus lebih kencang lagi mengayun kaki kecilku, berlari dan berlari…

———————————————————

by : gepenx 2011

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s