Jogjakarta-Hamemayu Hayuning Bawana

Posted: July 12, 2011 in Diary, Uncategorized

Jogjakarta atau Yogyakarta?

Dalam sebuah diskusi pendek antara sesama mahasiswa penganalisis kebijakan. Dengan opini dan latar belakang yang berbeda mereka mulai saling berargumen. Hanya mendengarkannya saja orang biasa sudah pusing, apa lagi ikut terlibat. Untuk posting ini, akan disebut Jogjakarta karena bagi saya ini terdengar lebih “njawani” tinimbang (read:Daripada) Yogyakarta. Kota Jogjakarta dalam perkembangannya telah berubah fungsi dan predikat sesuai perkembangan jaman. Dulu disebut sebagai kota perjuangan untuk yang berkenaan dengan peran Jogjakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jogjakarta pernah menjadi pusat kerajaan, baik Kerajaan Mataram (Islam), Kesultanan Jogjakarta maupun Kadipaten Pakualaman.  Kemudian menjadi kota kebudayaan, karena  berkaitan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai kini masih tetap lestari. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat-pusat seni dan budaya. Sebutan kata Mataram yang banyak digunakan sekarang ini, tidak lain adalah sebuah kebanggaan atas kejayaan Kerajaan Mataram.  Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di samping adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di propinsi ini, di Yogyakarta terdapat banyak mahasiswa dan pelajar dari seluruh daerah di Indonesia. Tidak berlebihan bila Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia.  Sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata Kepariwisataan.  (SUMBER : http://www.pemda-diy.go.id/)

Sumber: http://alumni.ugm.ac.id/simponi/images/nostalgia/boulevard_ugm.jpg

Seiring dengan perkembangan jaman dan pertumbuhan penduduk yang ber implikasi langsung dengan kebutuhan akan pendidikan, Jogjakarta selalu menjadi “jujugan” bagi pemuda-pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Denyut nadi Jogjakarta berada bulak sumur dan sekitarnya yang menjadi domisili Universitas Gadjah Mada yang tidak lagi ramah. Berjubelnya mahasiswa yang “numpang” hidup disekitar bulak sumur tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu pengetahuan dan budaya. Sayangnya seiring arus informasi, kearifan ilmu dan lingkungan yang dulu kental dan masih saya rasakan berlahan pudar. Bukan omong kosong, saya berkeliaran di UGM hampir 13 th dan melihat pergeseran kearifan mahasiswa dari “njawani” yang rendah hati, menjadi arogan dan “minteri”.

Tahukah anda? yang mengaku kuliah di Jogjakarta..?

Mengapa Jogjakarta menjadi daerah istimewa? Itu semua karena Jasa Jogjakarta melalua Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono, seorang yang mencintai negerinya, dan memilih bergabung dengan Republik, padahal beliau mempunyai kedaulatan sendiri atas Keraton Jogjakarta yang ironisnya lebih di takuti oleh Kumpeni (Belanda) dari pada Republik kala itu. Tauladan yang Njawani tapi jebolan sekolah dari belanda, otak barat dan dan Jiwa ketimuran. Belum lagi jasa-jasa belia dalam perang kemerdekaan sungguh, merupakan kehormatan Bagi Saya Pribadi tinggal di tanah Jogjakarta yang di pimpin oleh kasultanan dan segala keistimewaannya, bagaimana dengan anda?

Seiring dengan kebijakan Otonomi daerah, filosofi Pembangunan DI Jogjakarta berusaha sinkron dengan Pembangunan nasional. Dengan Visi : Hamemayu Hayuning Bawana, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Hakekat budaya adalah hasil cipta, karsa dan rasa, yang diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan indah. Demikian pula budaya daerah di DIY, yang diyakini oleh masyarakat sebagai salah satu acuhan dalam hidup bermasyarakat, baik ke dalam(Intern) maupun ke luar (Extern). Secara filosofis, budaya Jawa khususnya Budaya DIY dapat digunakan sebagai sarana untuk Hamemayu Hayuning Bawana. Ini berarti bahwa Budaya tersebut bertujuan untuk mewujudkan masyarakat ayom ayem tata, titi, tentrem karta raharja. Dengan perkataan lain, budaya tersebut akan bermuara pada kehidupan masyarakat yang penuh dengan kedamaian, baik ke dalam maupun ke luar. Perjuangan untuk mensejahterakan masyarakat telah diupayakan dan dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan diteruskan oleh pengganti beliau, tetap dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana, yang artinya Kewajiban melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat dari pada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud inipun mencakup seluruh peri kehidupan dalam sekala kecil, yaitu Keluarga ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan Dharma Bhakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri.  (SUMBER : http://www.pemda-diy.go.id/)

Kepingan filosofi ini yang saya rasa memudar pada kehidupan Kota Jogjakarta dan sekitarnya. Baik mahasiswa atau pun bukan. Kehidupan yang suka hura-hura, luntang-lantung, dan serba sia-sia, padahal hampir semua warga Kota Jogjakarta mengenyam pendidikan dasar.

Ironis, bila pendidikan tinggi tidak disikapi dengan arif. Yaitu berkarya sebanyak-banyaknya bagi bangsa.

Nah, sebagai warga Jogjakarta…Mari Berkarya!!

————————————————————–

By : Gepenx 2011

dari berbagai Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s